Merawat Asa Revolusi dari Suliki – Tan Malaka

Aksi untuk mencapai kemerdekaan nasional ini akan berlangsung lama, tetapi pasti membawa kemenangan.

Museum Tan Malaka di Suliki, Payakumbuh, Sumatera Barat. Museum itu adalah bekas Balai Adat Nagari Suliki yang menjadi saksi bisu masa kecil Tan Malaka yang bernama asli Ibrahim. Kondisi museum tersebut kini mengenaskan. Beberapa kaca jendelanya pecah dan lantai kayu bangunan rumah gadang itu pun sudah reyot. Foto diambil pada 24 Februari 2017.
KOMPAS/RINI KUSTIASIH

Museum Tan Malaka di Suliki, Payakumbuh, Sumatera Barat. Museum itu adalah bekas Balai Adat Nagari Suliki yang menjadi saksi bisu masa kecil Tan Malaka yang bernama asli Ibrahim. Kondisi museum tersebut kini mengenaskan. Beberapa kaca jendelanya pecah dan lantai kayu bangunan rumah gadang itu pun sudah reyot. Foto diambil pada 24 Februari 2017.

(Tan Malaka, Naar de Republiek Indonesia, 1925)

Rumah gadang itu menyendiri di kesunyian Nagari Pandan Gadang, Suliki, Payakumbuh, Sumatera Barat. Bangunan rumah masa kecil Tan Malaka itu kini rapuh. Debu tebal melapisi jejak peninggalan sang revolusioner seolah jadi metafora bangsa ini yang kerap lalai merawat api revolusi berbuah kemerdekaan yang ia wariskan hampir seabad silam.

Suliki, akhir Februari lalu. Matahari bersinar terang dengan angin bertiup lembut. Terletak agak menjorok dari pinggir jalan, rumah museum “Tan Malaka” yang sebenarnya merupakan balai adat pada masanya itu dibingkai perbukitan hijau dan barisan pohon kelapa yang tinggi menjulang.

Siang itu, tidak ada satu pun penjaga ataupun pengunjung. Ketika kami menginjakkan kaki ke dalam bangunan tradisional yang sembilan tahun lalu disulap menjadi rumah museum itu, lantai yang terbuat dari papan kayu berderit tajam. Di atas meja berdebu, tergeletak buku tamu yang kini justru jadi korban vandalisme.

Kondisi itu terasa kontras dengan hiruk pikuk keluarga besar keturunan Tan Malaka yang saat itu tengah mempersiapkan tahap akhir upacara simbolisasi pemindahan jasad Tan Malaka dari makamnya di Kediri, Jawa Timur, ke tanah kelahirannya di Suliki.

“Banyak orang merasa memiliki Tan Malaka, tidak hanya kami keluarganya,” kata Indra Ibnur Ikatama (46), cicit Tan Malaka, yang tinggal sekitar 40 meter dari rumah museum Tan Malaka. Banyak pihak yang mengklaim peduli, tetapi mengapa jejak peninggalannya tampak tidak terawat? Indra hanya tersenyum.

Sekitar seabad silam, rumah museum Tan Malaka merupakan balai adat, tempat berkumpul para tetua nagari (desa) di Pandan Gadang. Rumah itu menjadi saksi tumbuh besarnya Tan Malaka yang aktif, supel bergaul, pintar, dan sedikit badung. Menurut Zulfikar Kamaruddin, keponakan Tan, rumah asli serta surau tempat Tan Malaka sering menginap, belajar silat, dan berdiskusi di masa kanak-kanak, kini telah rata oleh tanah.

Di rumah itu ditengarai, pada 1908 para pemuka di kampung Tan Malaka berembuk untuk mengumpulkan biaya guna menyekolahkannya, pertama-tama ke Fort de Kock (Bukittinggi), kemudian Harleem, Belanda, dengan bantuan guru Tan Malaka, seorang Belanda bernama Horensma. Di perantauan, kepribadian dan gagasan Tan Malaka berkembang. Ia belajar dari para pejuang kemerdekaan negara lain hingga bertemu para tokoh komunis Vladimir Lenin, Josef Stalin, dan Leon Trotsky.

Dari tanah rantau, Tan Malaka mendirikan sejumlah partai hingga menuliskan gagasan yang membawa pengaruh besar pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bukittinggi dan Harleem menjadi titik awal kehidupan Tan Malaka yang nomaden dari negara ke negara, berulang kali dipenjara, serta berganti nama, identitas, dan rupa demi “menjual” gagasan kemerdekaan Indonesia.

Modal

Tan Malaka, oleh Presiden Pertama RI Soekarno, disebut sebagai “seorang yang mahir dalam revolusi”. Pada awal abad ke-20, saat semangat mengusir penjajah membuncah, tetapi imaji konstruksi masyarakat bangsa Indonesia masih di awang-awang, ia merajut gagasan awal tentang republik yang berdiri di atas kaki sendiri.

Tan Malaka menerbitkan brosur berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) di dataran China pada 1925. Tulisan yang menurut peneliti KITLV, Harry A Poeze, dikemas dengan sampul yang tidak menarik itu menjadi konsep pertama Republik Indonesia yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Tiga tahun setelahnya, pada 1928, Mohammad Hatta menulis Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka). Soekarno pada 1930 mematangkan rajutan kebangsaan itu dengan Indonesia Menggugat dan Menuju Indonesia Merdeka pada 1933.

Karya tulis Tan Malaka yang lain, seperti Massa Actie (1926) dan Madilog (1943), juga menjadi pegangan para tokoh pejuang dalam merangkai kemerdekaan.

Revolusi pada esensinya adalah suatu gerakan menuju kebaruan. Dalam Massa Actie, ia menulis, revolusi harus lahir lewat persatuan dari bawah sebagai hasil dari berbagai keadaan. Ia juga berpandangan, revolusi dilakukan dengan kekuatan sendiri, tanpa membuka kompromi dengan musuh.

“Tan Malaka memang radikal. Jiwa surau yang mendampinginya semasa tumbuh besar menanamkan kemandirian. Ia tidak bisa dipengaruhi, menolak kompromi,” kata Zulfikar Kamaruddin.

Menurut sejarawan Universitas Negeri Padang, Mestika Zed, kegigihan Tan memperjuangkan kemerdekaan dengan jalan revolusi tidak terpisah dari budaya dan falsafah hidup Minangkabau yang melekat pada dirinya. Dalam masyarakat Minang, revolusi hanya istilah baru yang lebih modern. Melalui budaya rantau, orang Minang terbiasa dengan cara berpikir rasional yang terus membawa perubahan dan perkembangan.

Perjuangan kemerdekaan Tan Malaka juga hasil didikan orang Minang yang menolak merasa rendah diri. Rusli Amran dalam Sumatera Barat hingga Plakat Panjang menceritakan laporan Nahuys van Burgst, doktor ilmu hukum berpangkat mayor jenderal pada 1825, yang terheran-heran melihat sikap rakyat Minang yang ia sebut “sangat bersikap merdeka”.

Nahuys terpana melihat masyarakat Minang yang hilir mudik dekat Raja Sutan Alam Bagagarsyah tanpa menunduk hormat. “Sutan membawa keperluannya sendiri, rokok, tempat sirih, dan korek telinga. Ia memang dipayungi seseorang, tetapi payungnya hanya seperti payung yang digunakan orang banyak,” tulis Nahuys.

Lain lagi cerita Residen Priangan De Steurs. Ia terkesima melihat orang Minang biasa saja menegur De Steurs di jalan, menyetop dan meminta menyalakan rokok dari api cerutu yang sedang diisap komandan militer itu. Dalam laporannya, De Steurs mengatakan, kemerdekaan pribadi orang Minang begitu tinggi sehingga praktis tidak ada perbedaan antara pemimpin dan orang biasa, kecuali nama.

Demikianlah, di Minangkabau, raja memberi kedaulatan pada nagari dan nagari memberi kemerdekaan kepada penduduknya. Sebuah petuah Minang berbunyi, pemimpin didahulukan hanya selangkah, ditinggikan cuma seranting. Lingkup budaya itu kondusif melahirkan pemikiran revolusioner.

Proklamasi

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Tan Malaka menyamar sebagai Ilyas Hussein, utusan dari Bayah, Banten, untuk bertemu tokoh pemuda di Jakarta. Dalam kalimat terakhir Dari Penjara ke Penjara Jilid II, ia menulis, “Saya menuju ke arah Republik Indonesia, tidak lagi dengan pena di atas kertas, di luar negeri, melainkan dengan kedua kaki di atas tanah Indonesia sendiri.”

Dalam pertemuan dengan Sukarni dan BM Diah, Hussein meminta Proklamasi jangan ditunda dan segera dilakukan pemuda tanpa campur tangan Jepang. Tidak lama setelah itu, para pemuda menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dan mendesak mereka segera mengumumkan kemerdekaan tanpa bantuan Jepang. Esok harinya, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Tan Malaka tidak terlibat. Ia, sang penggagas awal konsep Republik Indonesia, bahkan tidak tahu Proklamasi tengah dilakukan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56. Tan kecewa. Dalam Dari Penjara ke PenjaraJilid III, ia menulis, “Rupanya sejarah Proklamasi 17 Agustus tidak mengizinkan saya campur tangan, hanya campur jiwa saja. Ini sangat saya sesalkan. Tetapi sejarah tidak mempedulikan penjelasan seorang manusia atau segolongan manusia”.

Kekecewaan itu tidak membuat Tan Malaka mundur. Ia sadar, revolusi adalah jalan panjang yang terus diperjuangkan, bahkan jauh setelah Proklamasi digaungkan dan kemerdekaan diraih. Sebagaimana ditulisnya dalam Naar de Republiek Indonesia, “Aksi untuk mencapai kemerdekaan nasional ini akan berlangsung lama, tetapi pasti membawa kemenangan.”

Kemerdekaan nasional yang ia maksud tentu bukan sekadar Proklamasi. Namun, kemerdekaan 100 persen bangsa di berbagai aspek kehidupan yang sampai kini masih berproses sebagai pergumulan panjang. Oleh karena itu, semangat perbaikan perlu terus dirawat.

Sumber: (Agnes Theodora/Rini Kustiasih), Kompas.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s