kompas artikel

Visi Persatuan Pendiri Bangsa

Sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, para pendiri bangsa mencurahkan ide dan pemikiran tentang bentuk negara sebagai weltanschauung atau cara pandang terhadap dunia. Pancasila akhirnya dijadikan fondasi untuk merajut persatuan dan membuat Indonesia menjadi ada.

Pada masa itu, kendati berlangsung sengit dan “panas”, pertarungan wacana ideologi antartokoh bangsa berlangsung agonistik. Mereka beradu wacana dalam konteks persaingan antar-“lawan”, bukan persaingan antar-“musuh”. Semangat itu, ditambah kekuatan intelektual, akhirnya menghasilkan konsensus. Salah satu penyebabnya ialah cara pandang dan visi luar biasa dari para pendiri bangsa pada saat itu yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Saksi bisu peristiwa itu ialah Gedung Volksraad atau “Dewan Rakyat” yang setelah dipugar dan diresmikan presiden kedua RI, Soeharto, pada 19 Agustus 1975 disebut Gedung Pancasila. Pada Rabu (29/3) siang tidak terlihat aktivitas di dalam gedung bergaya neoklasik itu yang kini menjadi bagian kompleks Kementerian Luar Negeri.

Lima pintu terkunci dan ditutupi tirai putih dari ruang dalam. Hanya terlihat sejumlah pelajar magang di Kemlu yang menyempatkan berfoto di pelataran gedung yang beralamat Jalan Pejambon Nomor 6, Jakarta, tersebut.

Suasana kontras itu terasa ketika kita mengenang kembali fragmen sejarah pada periode 28 Mei 1945 hingga 1 Juni 1945. Kala itu, gedung itu menjadi lokasi sidang Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dengan agenda menentukan dasar negara Indonesia.

Berdasarkan Risalah Sidang BPUPKI-PPKI (1995), M Yamin menjadi tokoh pertama yang menyampaikan pidato tentang dasar negara dalam sidang pertama BPUPKI yang dipimpin Ketua BPUPKI KRT Radjiman Wedyodiningrat dan Wakil Ketua BPUPKI RP Soeroso, 29 Mei. Ia mengusulkan lima kerangka utama bagi dasar negara, yaitu Peri-Kebangsaan, Peri-Kemanusiaan, Peri-ke-Tuhanan, Peri-Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat.

Kemudian, dua hari berselang, giliran anggota lainnya, Supomo, memberikan usulan lima dasar negara meliputi paham negara kesatuan, perhubungan negara dengan agama, sistem badan permusyawaratan, sosialisasi negara, serta hubungan antarbangsa. Dan, pada hari pamungkas sidang itu, Soekarno menyampaikan rumusan Pancasila berdasarkan lima prinsip, yaitu kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang berkebudayaan.

Usulan Bung Karno itu disambut tepuk tangan riuh seluruh peserta sidang yang berjumlah 62 orang. Berdasarkan usulan Bung Karno pula dibentuk Panitia Kecil yang terdiri atas sembilan orang dan diketuai Soekarno. Delapan anggotanya adalah Alexander Andries Maramis, Agus Salim, Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar Muzakir, Wahid Hasjim, Achmad Subardjo, Mohammad Yamin, dan Mohammad Hatta.

Kesepakatan

Seusai shalat Isya pada 31 Mei, Bung Karno menemui tiga tokoh Islam, yaitu Wahid Hasjim, KH Masjkur, dan Abdul Kahar Muzakir, yang bermalam di rumah Yamin. Andree Feillard dalam NU vis-a-vis Negara (1999), yang berdasarkan kesaksian KH Masjkur, mengungkapkan, dalam pertemuan yang berlangsung sejak pukul tujuh malam hingga menjelang Subuh itu, tiga ulama tersebut sepakat menerima Pancasila sebagai isim (pelafalan), lalu menyepakati bahwa musamah (kandungan) di lima sila berdasarkan nilai-nilai keislaman.

Selanjutnya, pada 22 Juni 1945 muncul gentleman’s agreement dari Panitia Kecil BPUPKI yang oleh Yamin dinamakan Piagam Jakarta. Kesepakatan yang berupa pencantuman kata “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar diharapkan sebagai jalan tengah dari perdebatan yang saat itu terjadi antara elite nasionalis dan elite Islam.

Menjelang sore pada 17 Agustus 1945, Hatta dalam Sekitar Proklamasi (1970) mengatakan, dirinya menerima laporan dari seorang opsir angkatan laut (kaigun) yang menyampaikan keberatan perwakilan Nasrani di wilayah Indonesia timur terhadap tujuh kata itu. Opsir itu melaporkan bahwa mayoritas kalangan minoritas menganggap klausa itu sebagai diskriminasi.

Atas dasar itu, sebelum memulai rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI/Dokuritsu Junbi Iinkai) pada 18 Agustus, Hatta melakukan pertemuan informal dengan elite Islam, seperti Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasjim, Kasman Singodimedjo, dan Teuku Muhammad Hasan. Dan, hanya dalam durasi pertemuan sekitar 15 menit, Hatta mampu meyakinkan para elite Islam bahwa mengganti tujuh kata itu menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa” tidak melenyapkan semangat Piagam Jakarta.

“Itu adalah suatu tanda bahwa pemimpin-pemimpin tersebut pada waktu itu benar-benar mementingkan nasib dan persatuan negara,” tulis Hatta.

Kepentingan bangsa

Feillard menyatakan, sikap legawa para pemimpin Islam itu menunjukkan mereka telah memikirkan persatuan Indonesia yang terdiri dari beberapa agama dan beragam suku. Ia menyebut, elite Islam lebih mementingkan pendekatan substansialis dibandingkan skriptualis. Artinya, nilai-nilai keislaman lebih diutamakan daripada sekadar bentuk luarnya.

Dalam The Struggle of Islam in Modern Indonesia (1982), BJ Boland menjelaskan, hasil kesepakatan bersama para tokoh mengenai “Ketuhanan yang Maha Esa” harus dihargai sebagai itikad pendiri bangsa untuk memberikan ruang bagi masyarakat guna menghasilkan kesepakatan dalam perbedaan yang sukar didekatkan.

Selanjutnya, dalam rapat PPKI 18 Agustus 1945, setelah Bung Karno membacakan Pembukaan Undang-Undang Dasar hasil revisi Bung Hatta, hanya ada dua usulan perubahan.

Pertama dari Ki Bagus yang mengusulkan kalimat “Ketuhanan yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab” menghilangkan klausa “menurut dasar” yang kemudian membuat satu kalimat itu menjadi dua sila dalam Pancasila. Kemudian I Gusti Ketut Pudja yang mengusulkan mengganti kata “Allah” menjadi “Tuhan”.

Tanpa perdebatan panjang, usulan final itu disetujui secara mufakat oleh seluruh peserta sidang sehingga mengesahkan Pembukaan UUD 1945 yang berlaku hingga saat ini dan di dalamnya tercantum Pancasila.

Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Suhartono menganggap, elite Islam yang ikut dalam persiapan kemerdekaan Indonesia memiliki kecakapan dan kecerdasan untuk melihat masa depan. Hal itu ditandai dengan pemikiran rasional untuk mengambil keputusan demi mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

“Mereka menyadari perjuangan sudah lama dilakukan. Tetapi, kalau persoalan (dasar negara) itu tidak bisa diselesaikan, maka dapat memperparah kondisi persatuan bangsa yang baru lahir,” jelas Suhartono.

Peneliti pada Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada, Diasma Sandi Swandaru, menuturkan, lima dasar negara di Pancasila mengandung dua pokok pikiran. Pertama, pada sila pertama mengandung etos moral, sedangkan pada sila kedua hingga kelima memiliki kandungan etos politik.

Lalu, apakah pengamalan Pancasila telah dijalankan? Diasma menilai Soekarno merumuskan Pancasila berdasarkan sari pati nilai-nilai yang telah mengakar di masyarakat Nusantara sehingga pengamalan Pancasila sudah menjadi bagian bangsa Indonesia.

“Pancasila sesungguhnya diperuntukkan bagi penyelenggara negara untuk menjadi pedoman dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Andai diterapkan dengan baik oleh pemangku kebijakan, Pancasila merupakan jalan keluar atas segala permasalahan bangsa saat ini,” ujar Diasma.

Kini, kembali kepada kita sebagai generasi penerus bangsa, apakah bersedia melestarikan pemikiran visioner pendiri bangsa dan terus berusaha mencapai cita-cita Indonesia? Atau justru menyalakan kembali pertarungan diskursus di masa lalu yang bisa mengembalikan Indonesia ke titik nol?

Sumber:(MUHAMMAD IKHSAN MAHAR/ANTONY LEE) / Kompas

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s