Minangkabau, “Rumah” Para Pendiri Bangsa

sumber :
Kompas, (RINI KUSTIASIH/AGNES THEODORA)

Sumatera Barat menjadi rumah yang asri bagi tumbuhnya ide-ide kebangsaan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dari bumi Minangkabau lahir banyak tokoh dengan ide kebangkitan nasional yang acap kali tak hanya radikal, baru, dan mencerahkan, tetapi juga penuh sintesis akan berbagai pandangan kosmopolit pada eranya.

Di Minangkabau lahir antara lain Tan Malaka, Agus Salim, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Muhammad Yamin, M Natsir, dan Buya Hamka. Pemikiran mereka amat beragam, tetapi semuanya punya peran penting dalam sejarah perjalanan bangsa ini.

Tokoh-tokoh terdidik itu, menurut Elizabeth E Graves dalam bukunya, Asal-usul Elite Minangkabau Modern, lahir antara lain karena budaya matrilineal (mengikuti keturunan dari garis ibu) yang ada di Minangkabau. Budaya itu menumbuhkan tradisi merantau, khususnya bagi lelaki dewasa di daerah itu. Tradisi ini tak hanya membuat pemuda Minang terpacu mendapatkan penghidupan lebih baik di luar nagarinya, tetapi juga memicu mereka untuk sadar terhadap pendidikan.

M Nasroen dalam Dasar Falsafah Adat Minangkabau me nulis, orang Minang yang merantau tidak diwajibkan secara fisik untuk kembali ke tanah kelahirannya. Namun, mereka mesti membantu memperkaya kampungnya lewat nilai dan gagasan yang diperoleh di rantau.

“Pola pikir yang outward looking (melihat ke luar) itu membuat para pendiri bangsa yang berasal dari Sumbar tidak anti- belajar sampai ke tanah penjajah, untuk menggagas dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” kata pengajar Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Padang, Mestika Zed, akhir Februari lalu.

Pola pikir yang melihat ke luar tersebut mendapatkan momentumnya, ketika di akhir abad ke-19, pemerintah kolonial memerlukan banyak tenaga administrasi yang mampu baca-tulis dan berhitung. Kemampuan itu kemudian banyak diisi oleh orang Minang yang terbuka dan mau menerima pembaruan. Selanjutnya, keluarga pegawai kolonial itu berupaya memperbanyak anggota keluarganya untuk mencapai kedudukan serupa.

“Dengan demikian, tokoh-tokoh Minangkabau yang kemudian tampil pada awal abad ke-20, banyak yang berasal dari keluarga guru, juru tulis di gudang-gudang kopi pemerintah atau pegawai kecil abad ke-19,” tulis Elizabeth.

Respons “cerdik” dan penuh inisiatif dari masyarakat Minangkabau itu makin mendapatkan momentumnya ketika pada 1840 pemerintah kolonial yang sedang giat-giatnya mencari tenaga pegawai rendahan di kebun kopi, menginisiasi sejumlah sekolah di beberapa pusat perdagangan kopi. Peluang ini, dilihat sejumlah kepala nagari. Mereka meyakini, pendidikan bisa menjadi jalan masuk untuk meningkatkan penghidupan.

Koto Gadang

Para kepala nagari yang berpikiran terbuka, pada 1840-an, juga mulai mendirikan sekolah sendiri. Rakyat dari kalangan kebanyakan bisa menikmati sekolah yang dibiayai nagari itu.

Koto Gadang, sebuah nagari yang berbatasan langsung dengan Ngarai Sianok, jadi contoh sukses dari inisiatif nagari menyekolahkan anak-anak kampungnya. Di Balai Adat Koto Gadang, terdapat prasasti yang menyebutkan adanya Vereenigingen Studiefonds pada 1909. Studiefonds yang dimaksud ialah dana beasiswa dari masyarakat untuk menyekolahkan pemuda Koto Gadang.

Anak-anak Koto Gadang dikenang termasuk yang paling bersemangat sekolah di Sekolah Radja atau Kweekschool di Bukittinggi. Untuk menuju sekolah setingkat sekolah menengah yang dibangun pada abad ke-19 tersebut, anak-anak Koto Gadang harus terlebih dulu menuruni sisi lembah yang curam dan licin, sebelum kemudian mendaki kembali ke Bukittinggi.

Pada 2013, pemerintah membangun tangga dari beton sepanjang 1,5 kilometer di jalur curam menuju Bukittinggi tersebut. Membayangkan kondisi ngarai itu 1,5 abad silam, ketika anak-anak Koto Gadang melintasinya untuk sekolah, bisa dikatakan itu adalah perjalanan yang mendebarkan sekaligus penuh perjuangan.

Hatta yang lahir di Bukittinggi mencatat kesannya tentang anak-anak Koto Gadang itu dalam memoarnya, Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi. Penduduk Koto Gadang yang kebanyakan tukang emas dan keluarga pegawai negeri sudah berpuluh tahun sebelum 1910-an mempunyai keinginan agar anak-anaknya bersekolah, jika memungkinkan di sekolah Belanda. Hatta menilai keinginan itu muncul karena kerasnya perjuangan untuk hidup di kota, yang ia sebut dengan Kota Gedang tersebut.

“Aku kagum melihat kesungguhan hati anak-anak Kota Gedang pergi bersekolah ke Bukittinggi. Pagi-pagi sekali, kira-kira pukul 06.00, mereka sudah berangkat dari rumah dengan berjalan kaki, turun dan naik ngarai yang dalamnya kira-kira 100 meter, menyeberangi sungai. Dua kali sehari mereka turun-naik ngarai melalui jalan yang curam itu,” tutur Hatta dalam memoarnya. Selain Hatta yang lahir di Bukittinggi, Tan Malaka yang berasal dari Payakumbuh juga bersekolah di Sekolah Radja tersebut.

Sementara itu, Sjahrir punya garis keturunan dari Koto Gadang. Ayah Sjahrir, Mohammad Rasad, lahir di daerah itu.

Sebagai seorang jaksa yang bertugas di Medan, Rasad mampu menyekolahkan Sjahrir di sekolah yang berkualitas. Bahkan, pada 1929, Sjahrir dapat melanjutkan sekolahnya ke Belanda. Di sana, Sjahrir bertemu dengan Hatta, yang kemudian mereka lalu sama-sama menjadi anggota Perhimpunan Indonesia. Tokoh bangsa lainnya yang kelahiran Koto Gadang ialah Haji Agus Salim. Ia juga anak jaksa yang bertugas di Riau.

Kini, Koto Gadang seperti kota mati. Nagari itu sepi ditinggal pergi warganya merantau yang umunnya hanya pulang saat Lebaran. “Para datuk pun kalau tidak ada kegiatan adat di sini, juga tidak pulang,” kata Rico Aries Syaputra, perangkat nagari Koto Gadang.

Tradisi diskusi

Gusti Adnan, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Andalas mencatat surau dan lapau juga jadi bagian penting dalam menumbuhkan budaya intelektual di Minangkabau.

Menurut adat Minangkabau, anak lelaki yang telah akil balik tidak boleh tidur di rumah. Rumah hanya untuk perempuan. Akhirnya, anak lelaki terbiasa tidur di surau. Di sana mereka tak hanya belajar agama atau bela diri, tetapi juga berdiskusi tentang berbagai hal.

Maka tidak mengherankan jika di surau-surau di Minangkabau berkembang diskusi soal paham-paham yang sedang marak pada eranya, seperti Islam dan komunisme. Bahkan, di surau Sekolah Thawalib, suatu perguruan terkenal di Padang Panjang, perdebatan dua paham ini menjadi perhatian banyak orang. “Di sana diperbincangkan soal berdirinya partai-partai Komunis Islam lokal. Barang kali itu sulit dibayangkan, tetapi memang itulah nuansa diskusi yang egaliter di surau,” urai Gusti.

Jika surau menjadi representasi wadah resmi untuk berdiskusi, lapau atau warung makan menjadi bentuk non-formalnya. Lapau menjadi wadah hangat bagi perdebatan dan percakapan ringan hingga intelektual. “Kalau soal persoalan negara, habislah itu dibahas di lapau-lapau,” ungkap Gusti

Akhirnya, kearifan lokal dan kecerdikannya dalam merespons kolonialisme, sejarah mencatat, Minangkabau telah melahirkan para pendiri bangsa serta fondasi kebangsaan yang berakar dari nilai-nilai asli Nusantara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s