Gelora Juang dari ”Tanah Rencong”

Sebuah prasasti pernah dipasang di sisi utara Masjid Raya Baiturrahman di jantung Kota Banda Aceh. Prasasti yang dipasang di bawah pohon geulumpang itu untuk mengingat meninggalnya Mayor Jenderal JHR Kohler, komandan pasukan Belanda, pada 14 April 1873 oleh para pejuang Aceh.

Namun, prasasti yang dibuat tahun 1988 oleh Gubernur Aceh (saat itu) Ibrahim Hasan tersebut pada pertengahan Januari lalu sudah tak ditemukan lagi. Sementara pohon geulumpang yang menaungi prasasti itu diduga sudah ditebang. Pohon itu dahulu ditanam sebagai pengingat karena Kohler meninggal di bawah pohon tersebut.

Dengan tak ditemukannya prasasti dan pohon geulumpang yang menaunginya di sisi utara Masjid Raya Baiturrahman, jejak Kohler di Banda Aceh kini tersisa di Kerkhof Peutjut. Selain abu Kohler, di tempat itu ada makam tiga jenderal Belanda dan sekitar 2.200 serdadu Belanda dengan berbagai pangkat.

Deretan makam di Kerkhof Peutjut tersebut menjadi tanda yang kelihatan dari dahsyatnya perlawanan Aceh terhadap kolonialisme. Perlawanan itu dipicu oleh Traktat Sumatera pada 1871 antara Inggris dan Belanda. Melalui traktat tersebut, Belanda mendapat keleluasaan memperluas daerah kekuasaannya di Sumatera.

Dengan traktat itu, pasukan Belanda di bawah pimpinan JHR Kohler mendarat di Aceh pada 1873. Perang demi perang terus dilalui sejak 1873 hingga 1942.

Berbagai cara

Setelah gagal pada agresi pertama yang digelar awal 1873, Belanda melakukan agresi kedua ke Aceh pada November 1873- Januari 1874. Dalam agresi kedua ini, Belanda merebut Keraton Kerajaan Aceh. Para pejuang Aceh, seperti Tuanku Hasyim, Teuku Imum Lueng Bata, Teuku Nanta Setia, dan Panglima Polem, memilih mundur untuk menyusun kekuatan.

Masyarakat Aceh pun menyusun kekuatan. Sejumlah uleebalang, seperti Teuku Umar, Teuku Nyak Hasan, dan Cut Nyak Dien, juga turun memimpin rakyat melawan Belanda. Mereka menjalankan perang gerilya hingga membuat tentara Belanda panik. Dalam Atjeh Historiekarya HT Damste disebutkan, Gubernur Jenderal van Lansberge mengakui perang melawan Aceh telah mengakibatkan kekacauan di kubu tentara Belanda.

Dalam laporan berjudul Beknopte Beschrijving van de Onder-afdeling Lhokseumawe yang dibuat JHB Jaspers, pasukan Aceh berhasil memasuki Aceh Besar dan menyerang benteng Belanda.

Kondisi ini membuat Belanda mengerahkan berbagai cara untuk menundukkan Aceh. Belanda pernah coba memblokade wilayah Aceh dengan menduduki daerah Krueng Raba di pantai utara pada 1874. Tujuannya, agar Aceh tak dapat berhubungan dengan wilayah lain. Namun, upaya ini tak berhasil.

Untuk menarik simpati warga Aceh, Belanda juga membangun kembali Masjid Raya di Kutaraja yang pernah terbakar. Menurut catatan Teuku Ibrahim Alfian dalam buku Perang di Jalan Allah, peletakan batu pertama pembangunan masjid itu diwakili Teungku Kali Malikul Adil pada 1879.

Dinilai tak juga berhasil, Belanda lalu mengintensifkan patroli militer. Langkah ini, misalnya, dilakukan di Aceh Besar pada masa kepemimpinan Jenderal Karel van der Heijden tahun 1880. Operasi ini tak berlangsung lama. Pemerintahan sipil di bawah Pruys van der Hoeven pada 1881 menghapus patroli militer.

Ilmuwan Belanda, Snouck Hurgronje, pada 1891 lalu diminta meneliti kekuatan Aceh. Hurgronje menemukan gerakan rakyat dalam menghadapi Belanda adalah gerakan rakyat yang fanatik berlandaskan agama.

Sejarawan Aceh dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, Husaini Ibrahim, menuturkan, daya juang masyarakat Aceh yang terus menggelora hingga puluhan tahun itu dipengaruhi semangat jihad fisabilillah, yaitu berjuang di jalan Tuhan. Bagi mereka, mempertahankan tanah kelahiran merupakan bentuk jihad.

Semangat jihad itu yang membuat semangat juang rakyat Aceh tak pernah turun. ”Kemudian muncul sebutan Aceh pungo atau Aceh gila karena masyarakat Aceh sangat keras kepala sampai Belanda kewalahan,” ujar Husaini.

J Kreemer dalam buku berjudul Atjeh menulis, kerugian finansial yang dialami Belanda akibat perang Aceh dari tahun 1873 hingga 1884 mencapai 150 juta florin atau setara dengan Rp 1,1 triliun pada saat ini.

Dari catatan GDEJ Hotz pada Beknopt Geschiedkundig Overzicht van den Atjeh-Oorlog, kerugian finansial itu pada 1891 membengkak hingga 200 juta florin atau setara dengan Rp 1,4 triliun. Padahal, di Aceh, perang melawan Belanda berlangsung hingga 1942.

Keberanian dan kegigihan rakyat Aceh sebenarnya sudah teruji sejak Portugis berusaha mengakuisisi perdagangan di Selat Malaka pada 1500-an. Laksamana Keumalahayati dan barisan Inong Balee dari Kesultanan Aceh mampu menghalau pasukan Portugis yang dipimpin Cornelis de Houtman.

Heroisme melawan kolonialisme di Aceh juga terjadi di daerah lain. Sebut saja perlawanan Pattimura di Maluku dan perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Meski awalnya untuk membela daerah masing-masing, gerakan itu punya corak yang sama, yaitu melawan kolonialisme.

”Apa yang pernah dimiliki nenek moyang itu tidak hilang. Ketika ada kejadian yang mengancam kebersamaan dan tanah kelahirannya, masyarakat bergerak tanpa pamrih saling bantu. Meski semangat itu kadang kala tak bertahan lama seperti zaman dahulu,” kata sosiolog dari Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Saleh Syafei.

Semoga semangat itu terus terjaga di tengah makin minimnya teladan dan penanda pengingat lainnya.

sumber:kompas

Advertisements