Posted by: gitong on: May 25, 2009
Joachim de Pasoda membuat suatu experimen yang menggetarkan tentang self discipline dan delay gratification. Experimen yang dilakukan di Stanford dan Colombia ini adalah memasukan seorang anak secara terpisah. Dan kemudian dia diberi sebuah marshmallow. Kemudian dengan masing-masing anak itu dijanjikan apabila mereka tidak memakan marshmellow itu selama 15 menit mereka akan mendapatkan lebih banyak marshmallow.
Bagaimana sebuah Marshmallow kecil bisa memperkirakan sukses tidaknya seseorang di beberapa tahun kedepan
Joachim de Pasoda membuat suatu experimen yang menggetarkan tentang self discipline dan delay gratification. Experimen yang dilakukan ini adalah memasukan seorang anak secara terpisah. Dan kemudian dia diberi sebuah marshmallow. Kemudian dengan masing-masing anak itu dijanjikan apabila mereka tidak memakan marshmallow itu selama 15 menit mereka akan mendapatkan lebih banyak marshmallow.
Dari hasil experimen itu ternyata dua pertiga dari anak-anak tersebut melahap habis. Hanya sepertiga lainya yang berjuang dan berusaha menahan dirinya untuk tidak memakan godaan yang ada didepannya. Dan setelah beberapa belas tahun kemudian saat anak-anak tersebut menginjak remaja, prestasi mereka dipantau. Prestasi akademis mereka, hubungan profesional, hubungan pribadi dan rencana hidup mereka.
Hasilnya,100% dari anak-anak yang tidak melahap marshmallow mereka saat kecil itu mencapi prestasi yang baik. Sebaliknya sebagian besar dari anak-anak yang melahap marshmallow tersebut, mengalami kesulitan dalam masa tumbuh kembang mereka. Bermasalah akademis, hubungan dengan orang tua, teman dan peraturan.
Hal ini menunjukan bahwa salah satu kualitas penting untuk diajarkan sedari kecil adalah kemampuan untuk berdisiplin diri dan menunda kesenangan. Hal itu juga seperti yang diajarkan Kiyosaki dalam buku-bukunya.
Karena dengan menunda kesenangan itu, kita berhak mendapatkan lebih dari orang lain. Dan karena pengorbanan itu kita berhak untuk mendapatkan penghargaan dari yang lain. Suatu konsep sosial yang secara harmonis mengatur keseimbangan masyarakat dunia.
Posted by: gitong on: May 22, 2009
Jill bolte seorang ahli syaraf yang mengalami serangan stroke. Dalam presentasinya kali ini, Jill menceritakan dengan sangat indah tentang out of body expirience. Jill mengantarkan kita teori tentang kekinian si otak kanan yang bisa sangat indah. Tanpa harus direcoki oleh si otak kiri yang sibuk mengingatkan diri kita sebagai suatu untaian informasi.
Otak kanan yang berfungsi paralel, yang menerima semua informasi saat ini secara bersama-sama dari seluruh sensor yang ada. Otak kanan yang merasakan sentuhan, melihat terang dan warna, yang mewangikan aroma. Dan semua itu terjadi saat bersamaan. Semua energi-energi tersebut ditangkap oleh semua indra yang ada ditubuh kita. Kemudian informasi tersebut dirubah menjadi impuls melalui syaraf dikirim langsung ke otak kanan. Tidak ada kenangan masa lalu, tidak ada harapan masa depan. Yang ada hanyalah saat ini.
Saat ini yang dipenuhi oleh interaksi energi yang terjadi antara alam semesta dan kumpulan molekul yang membentuk rangka dan tubuh kita. Momen ini adalah momen yang sama, namun saat kita bisa melepaskan diri kita dari sakit masa lalu , ketakutan masa depan (Jill merasakannya saat ia terkena stroke). Maka kita akan merasakan keindahan, kita akan merasakan kedamaian, dan kita akan merasakan Nirvana.
Suatu kondisi, damai yang kita cari saat kita mendambakan tentang ketenangan. Saat kita menyerahkan diri kita dalam meditasi. Saat diri kita tercenung pada saat-saat spiritualitas kita yang tertinggi. Mungkin saat-saat dimana kita sedang menunggu lepasnya jiwa ini meninggalkan fisik tubuh ini. Dan saat kita telah menemukan masa itu, maka itu saat yang tepat untuk bertanya untuk apa kita semua ada di dunia ini.
Posted by: gitong on: May 16, 2009

ambigram melihat dari 2 sisi yang berbeda untuk substansi yang sama
Perkembangan teknologi terkadang bisa membuat manusia merasa bingung. Bukankah teknologi seharusnya membantu manusia. Tapi kalo teknologi terlalu banyak membantu terus tugas manusia jadi akan semakin malas. Bahkan di film Ron Horward terakhir Angels & Demons kadang peran teknologi dan sains digambarkan dengan sangat extrim. Kemampuan manusia untuk menciptakan substansi yang sangat dasar ini ditakutkan akan mengurangi Keberadaan Tuhan alih-alih MengagungkanNya.
Teknologi seharusnya membantu manusia, bukan membuat manusia semakin malas dan menjadi sombong. Tapi Teknologi seharusnya bisa membuat manusia bisa mengerjakan lebih baik, menarik batas lebih jauh, membuat manfaat dan makna lebih dalam, dan memahami keberadaanya lebih tinggi. Dari hal-hal ini yang menegaskan lagi ke “iman” an ku tentang teknologi, sains dan apa yang aku kukerjakan dalam hidupku.
Aku membanyangkan suatu titik manusia akan mengerti kenapa kita menghabiskan waktu kita untuk bekerja dan berkarya. Bukan hanya mengejar keuntungan finansial, ketenaran, kebanggaan dan pengakuan. Tapi titik ini kita akan membuat kita sadar bahwa kita mengambil peran penting dalam penciptaan dunia ini. Peran kita menjadi co- Creator dari Sang Maha Pencipta. Menjadi hamba yang ditugaskan oleh Nya mengungkap dan mewujudkan hal-hal luarbiasa yang telah Ia ciptakan.
Karena disanalah Ia memberikan kita bakat dan kekuatan, untuk masuk dan terlibat dalam proses penciptaan ini. Untuk mengambil peran yang telah disediakanNya sesuai dengan “modal” yang telah kita miliki. Memanfaatkan modal itu sebaik-baiknya sesuai TitahNya, menurutku adalah bentuk Syukur yang paling dalam.
Karena dengan perspektif dan paradigman seperti ini seharusnya kita tidak akan lagi bermasalah dengan konflik antara keimanan dan kemajuan teknologi dan sains.
Posted by: gitong on: February 25, 2009
Sekarang dengan banyaknya layanannya halaman awal membuat kita semakin mudah untuk memulai berinteraksi dan berselancar didunia maya. Namun untuk orang dengan flexibilitas dan dinamisasi yang tinggi apakah keberadaan halaman awal akan membawa dampak yang signifikan.
Posted by: gitong on: December 11, 2008
Satu artikel dari HBR November menceritakan pengalaman seorang manajer pengadaan tentang nasehat berharga yang didapatkan dari atasannya; “Cobalah untuk mendengar”. Karena dari situ akhirnya kita bisa tahu apa yang diinginkan konsumen, pengalaman yang dialami oleh penjaga toko, kendala yang dialami penjaga stok barang. Dan semua itu adalah masukan yang baik untuk memahami kondisi market yang sedang kita hadapi. Pemahaman & pengalaman (insight) yang mendalam terhadap sesuatu yang sedang kita hadapi itu bisa menjadi modal yang kuat untuk memberikan solusi terbaik untuk konsumen kita.
Belajar dari seorang Alumni senior waktu jaman kuliah. Dia bilang kalo kita harus rajin-rajin membaca, beliau menyebutnya Iqro. Disini maksudnya membaca dalam arti seluas-luasnya. Mendengar, mengamati, mengeksplorasi. Dan kearifan itu yang secara alami dimiliki oleh orang-orang hebat diseluruh dunia. Kearifan yang membawa insight terhadap dunia yang sedang dihadapi.
Ada satu pengalaman yang menarik juga yang kupelajari saat menonton beberapa episode The Apprentice. Di reality shownya si Donald Trump ini diceritain bahwa ada satu team yang diawal-awal pengerjaan misi mereka, mereka selalu turun kelapangan nanyain semua orang, ngamatin perilaku konsumenya, ngamatin petugasnya, semuanya, mereka berusaha “mendengar dan melihat” semuanya. Dan aku pikir itu adalah sebuah investasi waktu dan tenaga yang berharga. Dan terbukti team itu lebih sering mengungguli team lawan yang lebih mengandalkan naluri dan subyektifitas sendiri.